Programmer… Oh Programmer… Begitu Ekslusifnya kah Kalian?Written on March 6, 2008 – 3:45 pm by irv
“Theory is when you know something, but it doesn’t work.Practice is when something works, but you don’t know why.Programmers combine theory and practice: Nothing works and they don’t know why”.
Ini adalah cerita sebuah pengalaman dari seorang Information Security Officer yang merangkap sebagai System Administrator plus Network Administrator dan system engineer yang terkadang nyambi kerja sampingan jadi kuli IT Help Desk beradu emosi dengan user yang malas, bloon, gak mau tau dan sok bossy.Kisah ini mengambil setting di sebuah perusahaan nun jauh di sana. Yah… meskipun perusahaan dalam cerita ini tidak eksis dan mudah-mudahan tidak terjadi beneran terhadap anda semua.
Di perusahaan tempat ia bekerja, terbentuk sebuah pola pikir bahwa IT hanya lah Progamming. Jadi seorang Programmer di tempat ia bekerja di-elu-elu-kan sekali oleh Manajer IT. Sementara jabatan lain seperti Help Desk (Teknisi), System Administrator, Network Administrator, bahkan Information Security Officer hanya dianggap sebagai pelengkap struktur Divisi Sistem Informasi saja oleh Si Manajer IT. Yak!!! Hanya sebagai pelengkap.
Situasi ini semakin diperburuk dengan sifat sang Manajer IT yang tidak pernah menerima masukkan dari staff bawahannya jika mereka mempunyai sebuah konsep atau usulan. Usulan dan konsep yang disampaikan oleh staff bawahannya hanya berakhir menjadi peti es, bahkan menguap tanpa jejak. Tapi perlu diingat loh.. usulan, teori atau konsep yang dipeti-es-kan hanya usulan yang berasal dari staff selain programmer. Tapi ketika Programmer yang di-elu-elu-kan oleh si Manajer IT tersebut berbicara, memberi usul, waaaahh…. si Manajer menyambutnya dengan rasa bangga, si Programmer langsung diberi kepercayaan untuk menerapkan konsep atau usulan yang disampaikannya itu.
Beda sekali ketika staff lainnya memberi usulan, si Manajer cuma berkata “iya..iya..” saja. Kalo toh si staff tersebut menyuruh atau mendelegasikan usulan tersebut, itu hanya sebatas basa-basi, tidak pernah ada kelanjutannya, tidak pernah hasilnya dilihat. Tapi ketika si Manajer tersebut mendapatkan usulan yang sama yang pernah disampaikan oleh staffnya namun si Manajer mendengarnya dari orang yang dia anggap “WAH!!!” atau dari media masa, si Manajer langsung mengusulkan ke staff tersebut, seolah ide tersebut datangnya dari si Manajer, padahal jelas-jelas ide tersebut pernah di lontarkan beberapa bulan sebelumnya.
Contoh kecil ketika Sang System Engineer yang merangkap berbagai jabatan mengusulkan untuk menggunakan CentOS daripada Fedora sebagai OS di server database, dengan berbagai argumen salah satunya dengan mengatakan bahwa CentOS itu diambil dari RedHat Enterprise. Si Manajer bersikeras menggunakan Fedora. Hingga kurang lebih setahun kemudian, ketika Si Manajer IT membaca ulasan tentang CentOS di sebuah majalah. Sang Manajer IT dengan santainya berkata:
“CentOS itu diambil dari RedHat Enterprise yah? Kalo gitu sama aja donk ama Fedora? Kita pake CentOS aja kalo gitu”
Sang System Engineer yang merangkap sebagai System Administrator pun menghela nafas, sambil gregetan dicampur sebel dan berkata dalem hati..“Cabe deh… kemane aje dulu waktu gue jelasin tentang CentOS?”
Yaaah.. itu hanya sebagian kecil contoh, masih banyak lagi hal-hal yang memuakkan dari sifat si Manajer IT tersebut.
Tapi ada lagi kisah yang gak kalah menarik, yaitu tentang Staff yang di mata si Manajer IT amat sangat “WAH!!” yaitu para Programmer di perusahaan tersebut. Para programmer diperlakukan ekslusif.
Sang System Engineer yang merangkap sebagai Information Security Officer pun penasaran dengan kesan dan kelakuan ekslusif dari para programmer tersebut. Pemikiran sederhana pun muncul di benak Sang System Engineer:
“Kalo mereka ekslusif, berarti mereka jago donk?”
Sampai akhirnya Sang System Engineer tersebut melakukan sedikit riset dan test batas kemampuan para kaum ekslusif tersebut. Kebetulan ada waktu dimana saat user melakukan transaksi ke database terjadi bottleneck yang mengakibatkan akses menjadi lambat sekali. Ya..ya… hal ini memang didukung oleh settingan server yang benar-benar default tanpa optimasi oleh Sang System Engineer, dan ini pun bukan keingininan Sang System Engineer, tapi melainkan kemauan dari Si Manajer IT, yang penting Servernya udah jalan, ketika dijelaskan perlunya optimasi, Si Manajer pun tidak menggubris. Tapi sialnya ketika terjadi bottleneck, selalu blamming Sang System Engineer, kaum ekslusif pun menyalahkan database servernya.
Wah.. Sang System Engineer pun penasaran, akhirnya ia pun melakukan berbagai debug dan analisa terhadap server. Dengan kesadaran sendiri ia pun melakukan tune-up terhadap server tersebut, tapi hasilnya sama. Hingga pada akhirnya ia menemukan kasus “idle connection”. Hasil googling mengatakan bahwa, setiap koneksi ke database memesan register memory, jadi selama koneksi tersebut belum dilepas maka memory tersebut belum direlease. Hal ini memang menjadi habit dari aplikasi berbasiskan TCP/IP, itu sebabnya aplikasi yang berbasis TCP/IP idealnya melakukan “Closing Connection” jika tidak dibutuhkan.
Tapi tidak dengan aplikasi yang dibuat oleh para kaum ekslusif tersebut. Mereka tidak melakukan testing secara full sebelum merilis aplikasinya. Ketika dijelaskan kenapa terjadi bottleneck tersebut, dan dijelaskan mengenai aplikasi berbasis TCP/IP idealnya menutup koneksi ke server jika kedaan idle dalam batasan waktu tertentu. Mereka seolah tidak mau menerima bahwa terjadi kesalahan dalam aplikasi yang mereka buat. Bahkan ada satu dari kaum ekslusif tersebut yang mengatakan telah mencoba untuk membuat skrip otomatis MENUTUP APLIKASI, jika idle dalam batas waktu tertentu.
WHAT THE…???!!! Mereka itu ngerti gak sih??? Mereka menguasai gak sih tools yang mereka gunakan??? Jelas-jelas sudah dikatakan, TUTUP KONEKSI, bukan TUTUP APLIKASI.MORON….
Dan hal lain yang menjengkelkan dari kelakuan kaum ekslusif tersebut adalah, mereka menggunakan mesin production untuk mendevelop aplikasi, padahal sudah disiapkan 2 mesin development…Sang System Engineer pun tak habis pikir:
“Jadi ini toh yang merasa ekslusif? Merka tau gak sih apa yang mereka kerjakan? Meraka menguasai tools, dan system yang mereka gunakan?”
Jadi teringat sebuah quote yang telah saya tulis di atas sebelumnya, yaitu:
“Theory is when you know something, but it doesn’t work.Practice is when something works, but you don’t know why.Programmers combine theory and practice: Nothing works and they don’t know why”.
Jangan-jangan kategori ekslusif bagi mereka seperti itu??
Cerita ini bukan merupakan luapan kecemburuan kerja di dalam organisasi tempat ia bekerja, hanya sebagai refleksi buat kita-kita semua, semoga orang lain tidak mengalami hal serupa.